Pages

Powered By Blogger

Tuesday, January 31, 2012

Sampah Padat

A.     Pengertian Sampah Padat
            Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga : sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal,gelas dan lain-lain.

B.     Pembagian sampah Padat berdasarkan bahannya :
1.      Sampah Organik
      Merupakan sampah yang berasal dari barang  yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumahtangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.
2.      Sampah anOrganik

C.     Pembagian sampah padat berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi menjadi:
1)      Biodegradable
yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
2)      Non-biodegradable
yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:
a.       Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti: plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.
b.      Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetrapacks, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.

D.     Pembagian sampah padat berdasarkan ciri atau karakteristik benda atau zat yang dibuang:
1.      Garbage
Berupa benda organik yang mudah membusuk dan cepat terurai bila cuaca panas, serta dapat  menimbulkan bau busuk,banyak terdapat di pasar,rumah makan, tempat pemukiman,rumah sakit dan lainnya.
2.      Rubbish
a)      Mudah terbakar (zat-zat organik, kertas, kayu, karet, daun-daun kering).
b)      Tidak mudah terbakar (zat-zat anorganik, kaca,besi,kaleng).
3.      Ashes
Semua debu jalanan dan sisa-sisa pembakaran dari kegiatan industri.
4.      Street sweeping
Sampah dari jalanan,trotoar yang ditimbulkan oleh kegiatan orang.
5.      Lead animal
Bangkai binatang yang besar (anjing, kucing) yang mati karena kecelakaan atau alami.
6.      House hold refuse
Sampah dari perumahan dan kantor, berupa sampah campuran(garbage,ashes, rubbish).
7.      Abandoned vehicle
Bangkai-bangkai kendaraan bermotor.
8.      Demolision dan Contructions Waste
Sisa – sisa bahan pembangunan gedung - gedung. (tanah,pasir,batu-batuan, kayu-kayu)
9.      Sampah industri
Sisa - sisa hasil pertanian, perkebunan, industri.
10.  Santage solid
Benda-benda organik yang solid menyangkut di pintu masuk pusat pengolahan cair buangan.
11.  Sampah khusus
Sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti bahan beracun yang berbahaya dan zat radioaktif.

E.     Faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah sampah
1)      Jumlah penduduk,
Tergantung pada aktifitas dan kepadatan penduduk, makin padat penduduk maka jumlah sampah makin meningkat dan makin berkurangnya tempat penampungan sampah sementara.
2)      Sistem pengumpulan/pembuangan sampah yang digunakan
Pengumpulan sampah dengan memakai gerobak akan lebih lambat jika dibandingkan dengan mobil truk.
3)      Daur ulang
Pengambilan kembali jenis sampah untuk dipakai kembali oleh pemulung, bila nilainya kurang ekonomis maka jenis sampah tersebut akan menumpuk.
4)      Geografi dan topografi.
Lokasi tempat pembuangan apakah di daerah pegunungan, lembah, pantai dan dataran rendah.
5)      Waktu
Tergantung dari faktor harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Jumlah sampah bervariasi menurut waktu. Pada siang hari jumlah sampah lebih banyak daripada pagi hari, sedangkan di daerah pedesaan jumlah sampah tidak begitu tergantung dengan
faktor waktu.
6)      Sosial ekonomi dan budaya masyarakat
Adat istiadat,kebiasaan, taraf hidup dan mental masyarakat.
7)      Musim
Pada musim hujan mungkin banyak sampah akan tersangkut pada selokan-selokan, pintu air atau tempat penyaringan air limbah.
8)      Kemajuan teknologi & Peradaban
Jenis dan jumlah sampah akan meningkat seperti plastik, karton, rongsokan, bangkai AC, TV, Kulkas dan kenderaan bermotor.

F.      Dampak Sampah pada Masyarakat dan Lingkungan

1.      Dampak Positif
Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang positif terhadap masyarakat dan lingkungannya antara lain :
a.       Sampah dapat dipergunakan untuk menimbun tanah seperti rawa-rawa dan dataran rendah.
b.      Sampah dapat dimanfaatkan untuk pupuk.
c.       Dapat diberikan untuk makanan ternak melalui proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu untuk mencegah pengaruh yang buruk dari sampah terhadap ternak.
d.      Berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga atau binatang pengerat.
e.       Menurunnya insiden penyakit menular yang erat hubungannya dengan sampah.
f.       Keadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kegairahan hidup bagi masyarakat.
g.       Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan kemajuan kebudayaan masyarakat.
h.      Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana kesehatan suatu negara sehingga dana tersebut dapat digunakan untuk keperluan lain.

2.      Dampak negatif
Pengelolaan sampah yang kurang baik akan memberikan pengaruh yang negative terhadap masyarakat dan lingkungannya antara lain :
a.       Terhadap kesehatan
1)      Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menjadi tempat berkembang biak bagi vektor penyakit seperti lalat atau tikus sehingga insiden penyakit tertentu akan meningkat.
2)      Insiden penyakit Demam Berdarah Dengue akan meningkat sebab vektor penyakit akan hidup dan berkembang biak dalam kaleng-kaleng atau ban bekas yang berisi air hujan.
3)      Kecelakaan-kecelakaan timbul karena pembuangan sampah secara sembarangan misalnya luka oleh benda tajam seperti besi, kaca dll.
4)      Gangguan psikosomatis seperti sesak nafas, insomnia, stres dll.

b.      Terhadap lingkungan
1)      Estetika lingkungan menjadi kurang sedap dipandang mata.
2)      Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-gas tertentu yang menimbulkan bau busuk.
3)      Pembakaran sampah dapat menimbulkan pencemaran udara dan bahaya kebakaran akan lebih besar.
4)      Pembuangan sampah ke saluran - saluran air akan menyebabkan aliran terganggu dan saluran air akan menjadi dangkal.
5)      Bila musim hujan tiba akan menyebabkan banjir dan mengakibatkan pencemaran pada sumber air permukaan atau sumur menjadi dangkal.
6)      Air banjir dapat menyebabkan kerusakan fasilitas masyarakat, seperti jalan, jembatan, saluran air.

c.       Terhadap sosial ekonomi dan budaya masyarakat
1)      Pengelolaan sampah yang kurang baik mencerminkan keadaan sosial budaya masyarakat setempat.
2)      Keadaan lingkungan yang kurang baik dan jorok, akan menurunkan minat dan hasrat orang lain atau turis untuk datang berkunjung ke daerah tersebut.
3)      Dapat menyebabkan tindakan kriminal di daerah tersebut, terjadi perselisihan antar warga, atau warga dengan pihak pengelola.
4)      Angka kesakitan meningkat dan mengurangi hari kerja sehingga menyebabkan produktifitas masyarakat menurun.
5)      Memerlukan dana yang besar untuk memperbaiki lingkungan yang rusak, sehingga dana untuk sektor lain jadi berkurang.
6)      Penurunan pemasukan daerah/devisa akibat penurunan jumlah wisatawan dan diikuti penurunan atau berkurangnya penghasilan masyarakat setempat.
7)      Menurunkan kualitas dan sumber daya alam dengan demikian akan meyebabkan mutu produksi menurun dan tidak mempunyai nilai ekonomis.
8)      Penumpukan sampah dipinggir jalan akan menyebabkan kemacetan lalu lintas sehingga menghambat kegiatan transportasi barang dan jasa.

Ø  Pengelolaan Sampah Padat

1.      Tahap pengumpulan dan penyimpanan
Sampah disimpan pada tempat sementara, yaitu tempat sampah di kantor, rumah tangga, hotel, restoran dll. Sebaiknya sampah basah dan sampah kering dikumpulkan dalam tempat yang berbeda untuk memudahkan pemusnahannya.

Syarat-syarat tempat penampung sementara:
a)      Konstruksi harus kuat, tidak mudah bocor.
b)      Mempunyai tutup dan mudah dibuka tanpa mengotori tangan.
c)      Ukuran sesuai sehingga mudah diangkut oleh satu orang. Dari penyimpanan ini kemudian dikumpulkan lalu dimasukkan kedalam Dipo (rumah sampah). dipo ini dapat dikelola oleh pemerintah, berupa bak besar untuk menampung sampah rumah tangga.
Syarat-syarat Rumah sampah/Dipo
a)      Dibangun diatas permukaan tanah setinggi kendaraan pengangkut sampah.
b)      Mempunyai dua pintu, pintu masuk dan pintu untuk mengambil sampah.
c)      Mempunyai lubang ventilasi yang tertutup kawat halus untuk mencegah lalat dan binatang lain masuk ke dalam dipo,
d)      Ada kran air untuk membersihkan.
e)      Tidak menjadi tempat tinggal/sarang lalat, tikus.
f)       Mudah dicapai oleh masyarakat.

Cara pengumpulan sampah di dipo ada dua macam :
a)      Sistem duet: tempat sampah kering dan tempat sampah basah.
b)      Sistem trio: tempat sampah basah, sampah kering dan tidak mudah terbakar.

2.      Tahap pengangkutan
      Setelah dari Dipo sampah diangkut dengan mobil ke tempat pembuangan akhir atau pemusnahan sampah.

3.      Tahap Pemusnahan
      Ada beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat dilakukan oleh institusi atau individu dan penggunaan teknologi pemanfaatan sampah antara lain :
a)      Sanitary land-fill
      Adalah sistem terbaik yaitu pemusnahan sampah dengan jalan menimbun sampah dengan tanah yang dlakukan lapis demi lapis. Dengan demikian sampah tidak berada di alam terbuka, sehingga tidak menimbulkan bau atau menjadi sarang binatang pengerat. Sampah semua jenis diangkut dan dibuang ke suatu tempat yang jauh dari pemukiman dengan ditimbun tanah lapis demi lapis, setelah lebih dahulu sampah dan tanah tersebut dipadatkan.
      Metode Sanitary Land-Fill
1)      Metode Galian Parit (Trench Method)
Sampah di buang pada galian parit yang memanjang. Hasil galian digunakan untuk menutup sampah yang ditimbun dan tanah penutup dipadatkan kemudian diratakan kembali, setelah sebuah parit terisi penuh, dibuat parit baru disebelah parit yang terdahulu.
2)      Metode area
Sampah dibuang diatas tanah seperti pada tanah rendah, rawa-rawa, lereng bukit kemudian ditutup dengan tanah yang diperoleh dari tempat tersebut.
3)      Metode Ramp
Merupakan gabungan dari kedua metode diatas, prinsipnya lapisan tanah dilakukan setiap hari setebal 15 cm diatas tumpukan sampah. Setelah lokasi Sanitary Landfill stabil, maka pada tempat ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana jalur hijau (pertamanan), lapangan olah raga, tempat rekreasi, tempat parkir dll.

b)      Incinerator
      Incinerator adalah alat untuk membakar sampah yang terkendali melalui pembakaran dengan suhu yang tinggi dan merupakan salah satu metode disposal yang dapat diterapkan didaerah perkotaan atau daerah yang sulit mendapatkan tanah kosong untuk membuang sampah.
      Keuntungan dari metode ini, ialah dapat membakar semua jenis sampah kecuali batu dan logam serta tidak dipengaruhi oleh iklim. Suhu yang masih tinggi dalam incinerator dimanfaatkan untuk menggerakkan generator atau mengeringkan lumpur pada pengolahan air kotor. Residu pembakaran berupa abu dapat dipergunakan untuk menimbun tanah, abu yang dihasilkan kurang lebih 20-25% dari berat sampah yang dibakar atau sekitar 5-10 % dari volume sampah yang dibakar. kerugiannya tidak semua jenis sampah dimusnahkan terutama sampah dari logam, disamping akan menimbulkan pencemaran udara bila incenerator tidak dilengkapi dengan air pollution control.
      Di negara maju telah banyak dibangun incenerator modern dengan panas yang tinggi dan dirancang sedemikian rupa, hingga dapat membakar relatif semua jenis sampah menjadi abu serta tetap menjaga lingkungan dari pencemaran. Satu hal yang harus diperhatikan adalah abu sisa pembakaran secara berkala harus diambil dan dibuang. Untuk itu perlu disediakan tempat khusus pembuangan abu sisa pembakaran.

c)      Composting
      Pemusnahan sampah antara lain dengan jalan memanfaatkan proses dekomposisi sampah organik oleh kuman-kuman pembusuk dan pada kondisi tertentu akan menghasilkan bahan berupa kompos atau pupuk. Tahap-tahapan pembuatan kompos:
Pemisahan benda-benda yang tidak dapat dipakai sebagai pupuk seperti gelas, kaleng, besi dan lainnya,sampah dihancurkan menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dan tidak boleh lebih kecil dari 5cm. Kemudian dilakukan pencampuran dengan karbon dan nitrogen dengan komposisi paling baik antara C : N = 1 : 30. Sampah ditempatkan dalam galian tanah yang tidak begitu dalam dan dibiarkan terbuka sehinga terjadi proses aerobik. Agar pupuk terbentuk sempurna, sampah perlu dibolak-balik 4-5 kali selama 15-21 hari, baru kemudian akan menjadi pupuk. Yang penting diperhatikan jangan sampai ada binatang pengerat atau insekta yang lain bersarang.

d)      Hot feeding
      Pemberian sejenis garbage kepada hewan ternak (babi), sampah harus diolah lebih dulu, dimasak atau direbus untuk mencegah terjadinya penularan penyakit cacing dan trichinosis.

e)      Discharge to sewers
      Sampah dihancurkan sampai halus sebelum dimasukkan ke dalam sistem pembuangan air limbah dengan syarat sistem pembuangan air limbah harus baik.

f)       Dumping
Dibuang atau diletakkan begitu saja di tanah lapangan,jurang dan tempat sampah.
1) Dumping in water
Dibuang ke dalam air sungai, laut. sehingga terjadi pencemaran pada air dan pedangkalan dan menimbulkan bahaya banjir.

g)      Individual inceneration
Pembakaran sampah secara perorangan oleh misyarakat terutama didaerah perdesaan.

h)      Recycling
pengolahan kembali bagian-bagian dari sampah yang masih dapat dipakai atau daur ulang, Seperti plastik gelas,kaleng, besi dan lainnya.


i)        Reduction
      Menghancurkan sampah organik atau garbage menjadi bertuk yang lebih kecil, diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan bahan lemak.

j)       Salvaging
      Pemanfaatan sampah yang dapat dipakai kembali misalnya kertas bekas. Bahayanya dapat menularkan penyakit.

No comments:

Post a Comment